Bahari Sulsel, Riwayatmu Kini

Mercusuar point, Samalona island.

Wisata bahari di Indonesia, yang belakangan ini sedang naik daun, merupakan industri wisata yang sangat potensial dikembangkan di Indonesia. Seperti kita ketahui, Indonesia adalah negara kepulauan terbesar dan diklaim sebagai destinasi wisata selam terindah di dunia. Sebagai perbandingan, the Great Barrier reefs, Australia walaupun dikenal sebagai karang penghalang terpanjang di dunia, namun tidak memiliki kekayaan biodiversitas laut seperti di kepulauan Indonesia. Selain itu jumlah spesies yang ada di satu saja titik selam (bukan daerah) di Indonesia hampir setara dengan spesies yang ada di seluruh Karibia. Begitu kaya laut Indonesia!

Tahukah anda bahwa Pulau Sulawesi termasuk dalam daerah segitiga karang dunia (world Coral Triangle Area) dan tentu saja Sulawesi Selatan (Sulsel) termasuk di dalamnya. Namun sangat disayangkan, potensi wisata bahari Sulawesi Selatan selama ini terkesan kurang mendapat perhatian & promosi dari pemerintah daerah. Pengrusakan terumbu karang akibat penangkapan ikan secara ilegal menggunakan bom & racun ikan (illegal fishing) masih terus berlangsung di Sulawesi Selatan.

Dynamite fishing

Saat ini di perairan Taman Nasional Takabonerate, sekitar 85% terumbu karang telah rusak, sedang di kepulauan Spermonde (Makassar – Pangkep – Takalar) hanya tersisa 30% yang masih dalam kondisi baik. Semua akibat dari cara penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan. Situasi di atas membangkitkan keprihatinan saya dan teman-teman pecinta keindahan bahari melalui kegiatan selam rekreasi. Setiap kali melakukan penyelaman, kami hampir selalu dikejutkan dengan 3 – 4 kali bunyi ledakan bom ikan para nelayan yang mungkin tidak pernah mengetahui atau mengerti dampak perbuatan mereka.

Berdasarkan penelitian Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia di Kepulauan Spermonde mengungkapkan bahwa 64,88 persen nelayan adalah pelaku penangkapan ikan tidak ramah lingkungan (PITRaL). Dari pelaku PITRaL tersebut 68 persen adalah pengebom, 27 persen pembius dan 5 persen pelaku keduanya, mereka dominan dan berdomisili di pulau-pulau dalam kawasan. Lokasi pengeboman dan pembiusan tersebar meluas di seluruh kawasan Spermonde. Intensitas pengeboman cenderung meningkat pada musim barat (Oktober-Maret) sementara intensitas pembiusan relatif tinggi di semua musim. Faktor-faktor pemicu PITRaL seperti desakan ekonomi, tingkat pendidikan dan kesadaran yang rendah, lemahnya penegakan hukum, permintaan pasar yang tinggi, ketersediaan jalur distribusi bahan baku bom dan bius, serta persepsi masyarakat tentang stok ikan yang tinggi menyebabkan aktivitas PITRaL terus berlangsung.

Conservation. Badi island

Untuk itu diperlukan suatu kerjasama antara pemerintah daerah melalui instansi terkait, organisasi non-pemerintah & masyarakat pecinta bahari untuk melakukan pendekatan dan memberikan pengertian terhadap para nelayan di Sulsel. Bahwa wisata bahari sesungguhnya dapat menjadi salah satu alternatif pendapatan buat mereka selain mencari ikan. Memang karena urusan perut, faktor kultural, dan tuntutan ekonomi, usaha pendekatan ini tidak semudah membalikkan telapak tangan, tapi diharapkan dapat meminimalisir kegiatan illegal fishing di Sulawesi Selatan.

Mari belajar dari kabupaten Raja Ampat, kabupaten Wakatobi, kabupaten Halmahera Barat, provinsi Gorontalo dan kabupaten/provinsi lain di Indonesia yang berhasil mengelola kekayaan serta keindahan alam lautnya menjadi aset wisata bahari yang begitu dikagumi sampai ke pentas dunia. Sesuatu yang sebenarnya bisa membawa peningkatan sosial dan ekonomi masyarakat lokal tanpa harus merusaknya. Walaupun tidak dapat dipungkiri bahwa mungkin saja masih ada kegiatan illegal fishing di daerah-daerah tersebut, namun saat ini telah sangat jauh berkurang dibanding Sulsel.

Daerah lain di Indonesia bisa melakukan hal ini, kenapa Sulawesi Selatan tidak?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *