Cara Sempurna Menikmati Alam Gili Asahan – Sekotong di Lombok Barat

Dive Zone's office

Ini cerita, ceritanya mewakili perjalanan SACMakassar Female Diver ke beberapa dive spot yang ada di dunia (mengawali dengan lebay 😀 ).

Trip ke pulau Lombok ini menggenapi skor cita-citaku untuk dapat mengunjungi seluruh wilayah kepulauan di Indonesia. Atau sekurang-kurangnya ibukota propinsinya. Setelah dying inside ngimpi kapan bisa berkunjung ke Lombok sampe bela-belain ngeset sejak beberapa bulan sebelumnya, akhirnya keturutan juga bisa maen ke sana pada bulan Mei 2011 lalu.

Aerial view : Trio Gili

Menyebut Lombok, spontan mesti diidentikkan dengan sejejeran trio pulau alias Gili plus pantai Senggiginya. Dan itu biasanya akan menjadi tujuan pertama kebanyakan pengunjung saat menyambangi Lombok. Tapi eikess gak ikutan. Setelah melakukan hunting ke beberapa komunitas penyelam yang sudah pernah ke sana sebelumnya. Akika direkomendasikan untuk menghubungi George di Dive Zone, salah satu dive operator di daerah Lombok Barat.

Dalam sebuah chit chat, George kemudian merekomendasikan Sekotong sebagai salah satu dive spot yang tidak akan mengecewakan. Big Macro Creatures(makro koq gede?) menjadi salah satu andalannya di sana.

Dive Zone's office

Well, singkat cerita sayapun tiba di Lombok dan segera bergegas menuju Sekotong lewat jalur darat. Pemandangan hamparan hijaunya sawah berselang-seling dengan gugusan bukit  cadas, hamparan laut bergradasi biru-tosca yang tenang, plus perkampungan, jadi menu utama untuk santapan mata. Sangat menyegarkan. Dan satu lagi, hampir setiap jarak 200-300m kita bisa menjumpai bangunan masjid di antara perumahan penduduk (seolah berpesan : tidak ada alasan menunda kewajiban yang 5 kali sehari itu). Heishh! ustazah mode on…

Lagi-lagi atas rekomendasi George, eikeh mendapat tempat menginap di Gili Asahan pada sebuah resort bernama Pearl. Kunjungan pertama ini sama sekali tidak memberikan bayangan apa-apa tentang situasi di sana.

Untuk mencapai Pearl Resort kudu nyebrang lagi dengan boat sekitar 10 menit. Sempat bete sih karena urusan mesti pake nyebrang segala begini. Tapi setelah tiba di lokasi, baru nyadar kalo tempat ini… sumpah, keren abis! At leastbuat aku. Yang lain gak boleh protes kalo beda selera.

Pearl Resort, Gili Asahan-Sekotong

Cuma ada empat resort utama di situ plus sebuah restoran dan saung-saung yang letaknya sangat dekat dengan bibir pantai. Laut yang luar biasa tenang tanpa gelombang, Ku tuduh lebih cocok disebut danau saking tenangnya. Gili Asahan ini rasanya sih hanya berpenghuni kami para divers ini deh (total 3 diver dan 1 nondiver) betul-betul menciptakan keheningan yang total. Apalagi keterbatasan powerlistrik yang mengharuskan pengelola mesti sediakan genset dan hanya digunakan pada malam hari saja.

b'fast time, the view from Bamboo Resto

Beruntung tadi siangnya Akika sudah sempat blanja-blanji segala perbekalan seperti cemilan, cepulu, cebelas dan minuman2 lembut a.k.a softdrink (ini kebiasaan bawaan dari ritual anak2 SACMakassar sebelum Diving). Kalo enggak, bisa panik dot kom kita tak menemukan warung apalagi hypermart di sekitarnya untuk sekedar mencari hal-hal printil. Bekal tersebut ternyata cukup membantu buat peserta lain yang semuanya ‘produk impor’ alias bule dan tidak sempat mengantisipasi kondisi seperti itu.

Signal HP cukup bagus di sini dan itu milik Telkomsel (ouch tak bermaksud promo sodarahsodarih). O ya, signal operator Biru juga lumayan bisa diharapkan. Usahakan saja selalu fullbatt. Krn kalo lo batt dan genset blom dinyalakan, selamat! anda akan hilang dari dunia seluler dengan sukses!!  Gili Asahan hari itu resmi kami gelari sebagai Island for Escape.

"welcoming view"...The full moon

Alam lagi berdandan secantik-cantiknya di Sekotong untuk kami, katakanlah begitu. Ketika selesai mandi sore, kami dibuat ternganga melihat purnama yang begitu cerah bulat sempurna muncul seolah dari dalam laut. Maka kami tak mampu menunggu untuk segera mempekerjakan kamera masing-masing. Kegiatan membidik dan mengabadikan menjadi agenda utama sambil menunggu saat makan malam tiba. Restoran mungil dengan disain full bamboo furnishing, kompak dengan alam sekitar memberi sensasi tersendiri pada momen dinnermalam itu.

Setelah menyiapkan Dive Gear untuk besok termasuk nge-cas semua gadget yang ada, malam itu saya berangkat tidur dan melewati malam dengan ketenangan yang nyaris sempurna. Hanya ada suara jangrik dan sesekali jeritan Tokek yang terdengar, plus suara putaran pelan kipas angin di loteng. Bahkan angin dan ombak lautpun seperti ikutan lelap tak bersuara. Saya memutuskan menghargai ketenangan itu dengan sekalian mematikan HP dan music player juga kipas angin dan lampu-lampu, lalu meresapi keadaan totally silent yang sangat langka (buat saya) itu. Sinar bulan menerobos dari balik gordyn yang sengaja dibuka lebar di ketiga sisi dinding, cukup terang dan terasa mewah menggantikan fungsi lampu tidur kamar. Just amazing!

Parade kecantikan alam rupanya belum selesai sampai di situ. Pagi hari, sinar hangatnya matahari jingga menyembul dari garis horison pantai. Bulat sempurna tampil sendirian tak diganggu awan sedikitpun, membuat mulut saya mangap sukses tak terkendali. Kamera kembali dikerja-rodikan demi meng-capture momen yang bergerak sangat cepat itu. Masih tak mau kehilangan hangatnya mentari, saya memutuskan sarapan sambil berayun-ayun dalam hammock.

Setelah sarapan, tibalah ke main course aktifitas yaitu…DIVING. Sebelumnya mesti konsen dulu masang kuping dengar penjelasan Dive Master kami Mustafa Mohammed, asli orang Arab yang demi diving rela hijrah ke Sekotong.  Saya: Jowvy (Endonesah), Patrick (Germany), Christ dan pacarnya (Swiss) nyimak dengan tekun titik-titik penyelaman yang akan dijelajahi plus kondisi masing-masing dive spot tersebut. Telah direncanakan 3 day dive plus 1 night dive untuk hari ini.

Secret Garden menjadi titik pertama penyelaman. Masing-masing kami sudah siap dengan kamera untuk menjajal apa yang disebut Mustafa sebagai Big Macro. Arus yang agak kencang sedikit menggangu konsentrasi untuk memotret. Buat Saya ini beneran mengganggu. Sudah keseret-seret, masih ribet  sama urusan nge-set kamera pula (maklum pinjeman dari om Uchin deng en blom mahir pisan mengoperasikannya).  

Untung visibility-nya ciamik banget di sini, sekitar 25m. Dengan skill ala kadarnya, Saya berhasil meng-captured banyak Nudibranch. Body hewan lunak yang saya temui di sini, rata-rata bongsor kira-kira seukuran dua jari tangan saya, sangat memudahkan proses capturing. Sekalian bikin saya ngeh kenapa ada istilah Big Macro di site ini. Ya ya ya.

Setelah melakukan interval surface sekitar 1,5 jam di pulau Sangking (yang lagi-lagi sepi penghuni tapi infrastruktur sudah terlihat nyaris lengkap), kami nyemplung lagi. Kali ini pada spot yang memakai nama pulau itu : Sanking Point. Tipikal berarus variatif, sesekali kencang-sesekali tenang tambah bikin asik sesi penyelaman ini. Kami bertemu banyak ikan, besar-kecil-schooling..rame. Tak heran, karena tutupan coral di spot ini boleh dibilang mencapai 98% !!! Hamparan Soft coral, Hard coral, anemone, lebat-subur warna warni terbentang luas sepanjang mata memandang. Plus visibility yang sekitar 25-30m itu. Perfecto!  

Di sini saya sempat bikin panik ketiga rekan penyelam lainnya karena prinsip gak mo rugi. Maksudnya, memaksimalkan penggunaan isi tabung sampai mentok di 50 bar, baru memutuskan ascent. Padahal mereka yang lain sudah naik duluan beberapa menit sebelumnya. Mustafa langsung merepet ngomel-ngomel begitu saya naik ke kapal, sambil membeberkan segala peraturan per-buddy-an yang harus ditaati termasuk pentingnya ascent bersama plus nasehat Never Dive Alone… (bawel juga Arab satu nih! batinku).

Dua kali dive, tentu menggoda perut cepat mengosong. Kami balik dulu ke Pearl Resort untuk interval  surface ke dua, sekaligus makan siang dan tidur sejenak menunggu sore tiba. Sepiring besar steak ayam plus asesorisnya, rasanya masih kurang buat saya :p . Untung ngantuknya lebih kenceng, so urusan perut bermental kuli milik saya, bisa dikesampingkan sejenak. Jam 4 sore pintu resort saya digedor Mustafa, nyuruh siap-siap ke pencemplungan selanjutnya.

Dive Spot ketiga ternyata tidak begitu jauh dari garis pantai Gili Asahan sebelah utara. Kali ini saya hanya berdua dengan Patrick yang turun. Christ sama ceweknya memutuskan kembali nyebrang ke darat untuk melanjutkan perjalanan ke Baiaha, dive spot lainnya di Barat Sekotong yang katanya keren koleksi Big Fishes-nya (langsung masuk dalam wish list dive trip berikutnya nih… mo ikutan?).

Lagi-lagi ketemu arus di titik yang nama dive spotnya  : Belangan. Visibility agak pendek di sini, sekitar 10-15m saja. Mungkin karena dasar lautnya yang cenderung berpasir. Tidak seperti dua spot sebelumnya yang full coral. Ditambah lagi jam segitu kondisi laut sedang transisi ke arah pasang.

Sebuah gugusan pinacle coral berdiameter sekitar 2m dengan tinggi sekitar 5m segera mencuri perhatian kami. Terlebih karena disitu nongkrong dengan antengnya, dua ekor frog fish gede berwarna putih. Belum lagi ketemu dengan Lobster yang guedhe banget, lebih 1m panjang bodynya lagi sembunyi di balik karang. Saya kali ini cuma misuh-misuh gak karuan karena gak bisa motret lagi. Kamera Lo Batt soda-sodaraa! Dan genset blom dinyalakan sesore itu.

Masih tolah toleh menikmati pemandangan, tau-tau Mustafa dan Patrick sudah ngasih kode buat Safety Stop. Masih 90 bar isi tabung nih cuy! Buru-buru bangats siiyyh! Ai sedikit tak rela. Tapi visibility yang semakin memendek, plus suhu air yang berubah jadi sangat dingin, bikin malas juga berlama-lama di air. 

O ya, di sini eikeh kena musibah…masker pinjeman dari anak guwe….hilang tenggelam, sirna ditelan gelombang (duh!). Yang peserta lain bukannya prihatin, malah ngetawain dengan suka cita “its a good sign for you Jowvy…got lost your things while diving means that you will comeback here again one day…!” (heh?! Aminin aja deh..gak nolak mah guwe).

Masih getun kilangan masker lalu kembali ke restoran, saya milih ngopi sambil ngisi dive log bareng Patrick dan Mustafa. Patrick sudah gak mau turun lagi. Praktis aku tinggal berduet dengan Mustafa pada dive terakhir malam ini. Dengan tujuan ke Belangan kembali, kami membelah permukaan laut yang berkilau cerah ketimpa sinar rembulan keemasan (mendadak pengen nulis puisi..halah!)

Pada malam itu, visibility agak membaik ketimbang sorenya. Saya memilih melayang pelan menikmati perjumpaan dengan mahluk-mahluk laut malam. Sotong, udang-udangan, kepiting dan ikan-ikan batu yang tampak tenang ‘bobo’ nyender di karang, sangat menyenangkan dinikmati dalam keterbatasan cahaya seperti ini. Sensasinya makin terasa karena sinar purnama yang terang sanggup menerobos masuk hingga di bawah permukaan laut.

Puas bersua mahluk-mahluk malam, kami lalu naik ke permukaan dan masih saja terpana dengan sinar bulan malam itu. Oke deh, saya puas dengan 4 penyelaman di Sekotong ini. Meskipun taruhannya google pinjeman punya Kiki itu jatuh dan hilang entah di mana. (Anak-anak SACmakassar waktu diceritain soal ini langsung pada nyinyir gitu : makanyaaaa naro masker itu dikalungin di leeehheer jangan ditaro di jidat! merasa memang mo ko siapa yang komen begitu cess)

Gili Asahan di sebelah barat pulau Lombok

Karena besoknya akan melanjutkan terbang ke Bali, malam itu saya berusaha packing secepat mungkin, makan, lalu tidur. Butuh istirahat agar saya bisa aman terbang setelah multidive yang saya lakukan sepanjang hari itu. Esok paginya, Saya meninggalkan Sekotong menuju bandara sambil masih membawa kekaguman pada keindahan hayati laut Lombok Barat. Subhanallah! Harus balik sana lagi…suatu hari. Buddies, temeni yawks 🙂

One thought on “Cara Sempurna Menikmati Alam Gili Asahan – Sekotong di Lombok Barat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.